Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) mengikuti Studium Generale yang dilaksanakan pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Graha Watoe Dhakon, Ponorogo. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. H. Suyadi, S.Ag., M.A. sebagai narasumber dengan tema “Masa Depan Pendidikan Anak di Era Digital.” Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag. Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai perubahan pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI).
Dalam pemaparannya, Prof. Suyadi menegaskan bahwa Indonesia telah hidup di dunia digital. Berdasarkan materi yang disampaikan, penetrasi internet Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak lagi sekadar memasuki dunia digital, tetapi tumbuh di dalamnya. Bahkan, data dalam materi menunjukkan 99,4 persen anak dalam studi menggunakan internet dengan rata-rata waktu online mencapai 5,4 jam per hari. Fenomena tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan, sehingga pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap anak.

Prof. Suyadi selanjutnya menjelaskan lima perubahan besar dalam pendidikan. Informasi yang sebelumnya langka kini menjadi melimpah; guru yang semula menjadi sumber utama informasi bergeser menjadi perancang pengalaman belajar; pembelajaran yang seragam semakin bergerak menuju pembelajaran yang personal; media pembelajaran berkembang dari buku menuju media interaktif dan multimedia; sedangkan AI mulai berkembang dari sekadar eksperimen menjadi asisten atau co-pilot dalam pembelajaran. Perubahan tersebut menuntut pendidik untuk tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan secara tepat dalam proses pendidikan.
Dalam konteks tersebut, literasi digital menjadi kompetensi penting bagi pendidik dan peserta didik. Kemampuan menggunakan perangkat digital belum cukup; literasi digital juga mencakup kemampuan memeriksa fakta, menjaga privasi, mengatur diri, memahami algoritma, berpikir kritis, serta memiliki etika dan kesadaran keamanan. Sementara itu, AI memiliki potensi besar untuk membantu mencari pola, membuat draf, memberikan variasi ide, dan menyediakan contoh. Namun, AI tidak menggantikan kemampuan manusia dalam membangun relasi, menunjukkan empati, memberikan keteladanan, membaca situasi, dan mengambil pertimbangan moral.

Bagi mahasiswa PBA sebagai calon pendidik, perubahan tersebut memberikan perspektif bahwa kompetensi guru masa depan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi dan keterampilan mengajar. Guru perlu memiliki literasi AI dan media, memahami keamanan digital, memiliki kecerdasan sosial-emosional dan etika, serta mampu menjadi perancang pengalaman belajar. Prinsip yang ditekankan Prof. Suyadi adalah “Pedagogi Dulu, Teknologi Kemudian,” yang berarti pemanfaatan teknologi harus didasarkan pada kebutuhan pendidikan, keadilan, dan bukti mengenai dampaknya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Suyadi mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan. Ia memperkenalkan prinsip mendidik anak di era digital, antara lain anak sebelum teknologi, relasi sebelum gawai, bermain sebelum layar, berpikir kritis sebelum mengklik, etika sebelum AI, dan kemanusiaan di atas teknologi. Pesan tersebut menegaskan bahwa semakin digital kehidupan pendidikan, semakin penting pula peran pendidik dalam menghadirkan relasi, empati, karakter, dan pengalaman belajar yang bermakna. Sebagaimana ditegaskan dalam materi, “Teknologi makin digital, pendidikan makin manusiawi.” (AK)




